Beberapa menit setelah menonton Waris, ada perasaan yang sulit dijelaskan secara utuh. Bukan karena film karya Dito Ardhi Firmansyah ini menghadirkan peristiwa yang rumit, tetapi Waris menghadirkan begitu banyak hal yang tidak pernah benar-benar tuntas dijelaskan. Kita tidak pernah diberi informasi lengkap mengenai hubungan Lanang dengan ayahnya. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang ada di kepala masing-masing karakter. Bahkan ketika film berakhir, masih ada sejumlah pertanyaan yang sengaja dibiarkan terbuka.
Menonton Waris memberi pengalaman tentang ketidaklengkapan yang tidak membuatnya terasa kurang. Justru sebaliknya. Film ini meninggalkan kesan yang mengendap cukup lama setelah layar menggelap. Ada rasa tidak nyaman, tertekan, sekaligus sedih yang sulit dilepaskan begitu saja. Perasaan tersebut hadir bukan karena film menjelaskan trauma secara panjang lebar,tetapi penonton diajak berada di dalam pengalaman traumatis itu sendiri.
Sebagian besar film, memilih menjelaskan konflik kepada penonton. Kita paham betul latar belakang karakter, alasan di balik tindakan mereka, hingga penyebab berbagai peristiwa yang terjadi. Waris mengambil jalan berbeda. Film ini memilih menahan diri dan tidak buru-buru memberikan jawaban. Penonton hanya diajak mengikuti Lanang, melihat apa yang ia lihat, dan merasakan tekanan yang perlahan menumpuk dalam kesehariannya.
Cara bercerita semacam ini sebenarnya memiliki nama dalam kajian film, yaitu restricted narration. David Bordwell, Kristin Thompson, dan Jeff Smith menyebutnya sebagai strategi penceritaan yang membatasi informasi kepada penonton melalui perspektif tertentu. Dengan kata lain, film tidak memberikan gambaran utuh mengenai dunia cerita, melainkan hanya sebagian kecil yang dialami oleh karakter utama.
Bagi sebagian penonton, pendekatan semacam ini mungkin terasa menjengkelkan. Mengapa film tidak sekalian menjelaskan semuanya?
Mengapa motivasi karakter dibuat samar?
Mengapa akhir cerita tidak memberikan kepastian?
Ketimbang menjawab seluruh pertanyaan itu, justru di situlah letak kekuatan dari restricted narration.
Ketika informasi dibatasi, penonton tidak lagi menjadi pengamat yang berdiri di luar cerita. Penonton diseret masuk ke dalam pengalaman karakter. Kita mengetahui apa yang dialaminya, sekaligus ikut merasakan ketidakpastian, kecemasan, atau tekanan yang ia rasakan.

Hal semacam itulah yang ingin dicapai oleh Waris. Film ini berangkat dari pengalaman personal mengenai pewarisan tradisi bong supit dalam lingkungan keluarga. Namun, Waris tidak memilih cara yang lazim untuk bercerita. Film ini tidak berusaha menjelaskan tradisi tersebut secara rinci. Tidak ada narasi panjang yang menerangkan sejarah keluarga. Tidak ada dialog yang menjabarkan alasan di balik setiap tindakan tokohnya.
Sebaliknya, penonton ditempatkan sedekat mungkin dengan Lanang, tokoh utama dalam film. Kita mengikuti kesehariannya, melihat apa yang ia lihat, dan merasakan tekanan yang perlahan menumpuk dalam dirinya. Sementara itu, berbagai informasi lain tetap berada di luar jangkauan, di luar kuasa Lanang.
Mengapa ayah bersikap demikian dingin dan keras padanya?
Apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan mereka?
Tanpa berniat melepaskan tanggung jawab interpretasi sepenuhnya pada penoton, Waris tidak pernah memberikan jawaban yang benar-benar lengkap.
Pilihan restircted narration sebagai konsep naratif berhubungan dengan tema utama yang diangkat Waris, yaitu trauma antar generasi (generational trauma). Trauma sering kali tidak hadir dalam bentuk cerita yang rapi dan mudah dijelaskan. Ia hidup dalam kebiasaan, dalam pola pengasuhan, dalam kalimat-kalimat yang diulang dari generasi ke generasi, bahkan dalam hal-hal yang tidak pernah dibicarakan secara langsung.
Karena itu, menjelaskan trauma secara gamblang justru kerap membuatnya kehilangan daya. Lebih buruk dari itu, kadang bisa memicu atau memanggil kembali trauma pada penonton yang barangkali memiliki pengalaman serupa. Pengalaman traumatis lebih sering hadir sebagai sesuatu yang dirasakan daripada dipahami. Dalam konteks ini, restricted narration menjadi penting karena memungkinkan film menghadirkan trauma sebagai pengalaman, bukan penjelasan.
Penonton tidak diminta memahami seluruh persoalan keluarga Lanang. Penonton diajak merasakan bagaimana rasanya hidup di bawah tekanan yang terus-menerus hadir. Tekanan tersebut tidak datang melalui satu peristiwa besar. Serangkaian tekanan ayah pada Lanang adalah renteten pengulangan, rutinitas, dan situasi yang tampak biasa tetapi perlahan mengendap menjadi beban psikologis.
Di sinilah Waris menjadi menarik. Film ini menggunakan pendekatan yang sering ditemukan dalam sinema kontemporer untuk membaca sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia: pewarisan pengetahuan tradisional dalam keluarga. Tradisi tidak dihadirkan semata sebagai warisan budaya yang harus dijaga, tetapi juga sebagai ruang tempat berbagai nilai, harapan, dan tekanan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada akhirnya, kekuatan Waris tidak terletak pada kemampuannya menjelaskan trauma atau tradisi secara lengkap. Kekuatan film ini justru muncul dari keberaniannya untuk menahan diri. Ia tidak menawarkan jawaban yang pasti. Ia tidak berusaha menjelaskan semuanya kepada penonton. Sebaliknya, Waris menjadi contoh bagaimana film mengajak kita tinggal sejenak di dalam pengalaman yang tidak selalu mudah dipahami.
Dan mungkin, untuk beberapa hal yang memungkinkan hadirnya teror seperti trauma, pengalaman dan perasaan sering kali jauh lebih penting daripada penjelasan.



