Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Dokumenter dan jurnalisme memang telah lama berjalan beriringan. Banyak film dokumenter lahir dari kerja investigasi, etos riset lapangan, dan dorongan kepentingan publik. Sebaliknya, praktik jurnalistik juga semakin sering memanfaatkan medium audio visual untuk menyampaikan liputan yang kompleks. Persinggungan keduanya bukanlah hal baru. Justru karena itu, penyematan kata jurnalisme setelah dokumenter menjadi menarik untuk dipertanyakan. Apakah ia sekadar menjelaskan metode produksi sebuah film? Apakah ia juga menandai posisi etiknya? Atau bisa saja, ia sedang mengusulkan sebuah bentuk baru dalam cara kita mengenal dunia?.
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang muncul ketika saya menghadiri Djourno Fest 2026 di IFI Yogyakarta, pada Sabtu 4 Juli 2026. Festival ini secara eksplisit menyebut dirinya sebagai festival film dokumenter jurnalisme. Djourno menyatakan bahwa film-film dalam festival ini diproduksi dengan kaidah jurnalistik—faktual, aktual, dan independen—namun pada saat yang sama dengan tegas menyatakan keberpihakan kepada kelompok-kelompok yang dipinggirkan dan korban kekerasan. Festival ini juga memosisikan dirinya sebagai ruang untuk memperkuat demokrasi melalui pendekatan sinematik dan jurnalistik.

Bagi saya, yang menarik dari Djourno bukan semata delapan film yang diputar. Keputusannya untuk menyatakan dirinya sebagai dokumenter jurnalisme bisa dicermati lebih dalam. Ketimbang menerimanya sebagai istilah yang sudah selesai, saya justru melihatnya sebagai sebuah pertanyaan. Mengapa hari ini kita merasa perlu menyebut dokumenter jurnalisme secara eksplisit? Apa yang berubah dalam persilangan antara film dokumenter dan karya-karya jurnalistik sehingga perlu ditegaskan sebagai sebuah identitas?
Serangkaian pertanyaan ini semakin relevan ketika mendengar perbincangan yang berlangsung selama festival. Acap kali muncul kegelisahan serupa, yaitu soal krisis kepercayaan terhadap media, algoritma sosial media yang mengatur sirkulasi informasi lewat algoritma, banjir berita yang datang silih berganti tanpa henti, hingga perhatian publik yang semakin pendek. Dalam situasi demikian, karya jurnalistik semakin sulit mempertahankan kedalaman pembacaan atas suatu persoalan. Liputan investigasi yang membutuhkan waktu berbulan-bulan, sayangnya dapat tenggelam hanya dalam hitungan jam di antara arus informasi baru. Maka, tema Djourno Festival yaitu ‘Saling Silang Ketimpangan Demokrasi’, sekaligus sebuah pertanyaan untuk membayangkan masa depan dokumenter dan jurnalisme itu sendiri.
Dokumenter dan Jurnalisme yang Bersanding di Pelaminan Djourno Festival
Dengan latar yang lebih banyak bergelut dalam kajian film dibandingkan studi jurnalistik, saya tentu tidak berada pada kapasitas untuk mendefinisikan disiplin jurnalisme. Namun, dari posisi ini saya tertarik membaca apa yang terjadi ketika dua tradisi yang berbeda ini dipertemukan dalam satu istilah, documentary journalism. Secara umum, klaim utama jurnalisme dititikberatkan pada kredibilitas informasi yang disampaikan. Bentuk barangkali penting dan dipertimbangkan, tapi setidaknya bukan menjadi perundingan primer. Sedikit disclaimer, bahwa esai ini tidak bermaksud mempertentangkan dokumenter dan jurnalisme, tetapi membaca kemungkinan pengetahuan baru yang lahir dari perjumpaan keduanya.
Perjumpaan itu menarik justru karena sejak awal dokumenter dan jurnalisme dibangun di atas orientasi yang tidak sepenuhnya sama. Sejak lama para pemikir dokumenter seperti Bill Nichols mengingatkan bahwa dokumenter bukanlah cermin netral terhadap realitas. Dokumenter, sebagaimana film dan karya seni lainnya, adalah sebuah representasi atas dunia. Representasi ini kadang saya bahasakan sebagai isi kepala seorang pembuat film. Bill Nichols, dalam Introduction to Documentary, menjelaskan bahwa dokumenter adalah konstruksi perspektif dan cara melihat dunia. Nichols menyebut dokumenter sebagai a representation of the historical world. Lebih eksplisit, dalam esainya The Voice of Documentary, Nichols juga menajamkan bahwa voice bukan sekadar suara, dialog, atau narasi, tetapi sebuah sudut pandang. Sebuah cara bagaimana materi diorganisasi untuk menciptakan hasil interaksi unik dari semua kode film (visual, suara, editing). Kesatuan yang kemudian menyampaikan cara film ‘membingkai’ dunia. Aspek audio yang kerap muncul dalam bentuk voice (suara) dalam dokumenter, sebenarnya adalah produsen wacana sinematik, daripada sekadar reporter netral yang serba tahu tentang bagaimana keadaan sebenarnya.1
Perbedaan orientasi inilah yang membuat istilah documentary journalism tidak pernah memiliki definisi yang benar-benar mapan. Dengan mengutip pendapat dari Laura Poitras (Citizenfour, The Oath) yang mengkarakterisasi film dokumenter sebagai “jurnalisme plus”, Alex Gibney (Taxi to the Dark Side, Going Clear) yang memposisikan dirinya sebagai “pembuat film dengan ‘beban jurnalistik’”, dan Marc Silver (Who is Dayani Cristal?, 3½ Minutes) menggambarkan “lapisan jurnalistik sebagai dasar pembuatan film dokumenter”, Stephanie Craft menunjukkan bahwa istilah tersebut adalah wilayah negosiasi yang terus berubah mengikuti perkembangan media, institusi, dan praktik profesional. Poitras, Gibney, dan Silver melihat kesamaan dengan jurnalisme ini sebagian besar bermanfaat bagi film dokumenter, memberikan perlindungan hukum dan status kepada pembuat film sejauh mereka mengejar cerita sesuai dengan prinsip-prinsip jurnalistik mengenai penyampaian kebenaran, melindungi sumber, dan menjaga independensi.2 Perbedaan antara jurnalisme dan film dokumenter, menurut para pembuat film ini, lebih berkaitan dengan bentuk daripada fungsi. Keduanya menandai perbedaan dalam teknik bercerita yang digunakan untuk penyampaian kebenaran, daripada gagasan penyampaian kebenaran sebagai tujuan mendasar itu sendiri.3
Di titik inilah documentary journalism menjadi menarik karena kekuatannya yang terletak pada kemampuannya membentuk engagement terhadap kehidupan sosial. Singkatnya, documentary journalism pertama menghadirkan kesaksian (bearing witness), Ia adalah sebentuk keterlibatan moral untuk mengungkap ketidakadilan, perbudakan, dan kebohongan.4 Kedua adalah lived experience (expérience vécue), ketika dokumenter lahir dari pengalaman hidup pembuatnya yang terjun langsung ke situasi konflik (seperti perang) untuk menyuarakan penderitaan orang lain (the blood of others).5 Terakhir usahanya membongkar mitologi yang dibangun oleh kekuasaan. Fakta tetap menjadi fondasi, tetapi fakta tersebut memperoleh daya hidupnya melalui keterlibatan manusia dan pengalaman yang dihadirkan oleh medium audiovisual.
Argumen-argumen ini membantu menjelaskan mengapa praktik documentary journalism berkembang di berbagai belahan dunia melalui karya-karya sineas seperti Laura Poitras, Alex Gibney, atau tim investigasi Frontline. Mereka memanfaatkan bahasa sinema untuk menghadirkan kompleksitas yang sulit dicapai oleh format berita. Dari sini tampak bahwa documentary journalism adalah salah satu kemungkinan untuk memperluas cara publik tidak sekadar mengetahui, tetapi juga mengalami realitas.
Justru di titik inilah saya melihat perjumpaan dokumenter dan jurnalisme menjadi penting. Betul bahwa keduanya berangkat dari kenyataan, tetapi perlu dicatat bagaimana sinema adalah sistem image yang menghasilkan pengalaman dan afeksi, bukan semata struktur naratif. Ditambah perkara bahwa gambar tidak pernah netral; ia selalu membawa struktur kuasa, sejarah produksi, dan posisi ideologis tertentu.6 Dengan kata lain, dokumenter bekerja melalui susunan serangkaian pengalaman atas fakta sosial. Di sinilah saya merasa dokumenter memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh bentuk-bentuk jurnalistik lain. Film tidak semata bekerja sebagai penyampai cerita. Film sebagai sebuah karya seni juga beroperasi sebagai produksi image. Baik terasa secara langsung atau tidak, pengalaman sinematik terlebih dahulu bekerja pada tubuh penonton sebelum ia membentuk makna secara rasional.
Maka dokumenter sebenarnya menawarkan apa yang semakin sulit dilakukan oleh berita harian. Kelapangan waktu bagi publik untuk tinggal lebih lama bersama sebuah persoalan, merasakan kompleksitasnya, membangun hubungan afektif dengan realitas yang sedang dibicarakan, kiranya menjadi keistimewaan di tengah arus informasi yang bergerak cepat. Djourno Festival kelihatannya melihat celah ini dengan menyandingan dokumenter dan jurnalisme.

Image, Fakta, dan Pengalaman
Setelah mengurai logika dokumenter jurnalisme dalam Djourno Festival, pertanyaan yang berikutnya muncul adalah jika dokumenter memiliki kekuatan untuk bekerja melalui image, lantas bagaimana posisi image tersebut ketika dokumenter bermain di wilayah jurnalistik?
Saya menonton enam dari delapan film yang diputar di Djourno Fest. Masing-masing adalah Ora Abot Ora Maem (Agil Mila), The Atlantis Mussels (Rachmat Kurniawan Idrus), The Diaspora and the State: the Legacy of the Chinese in Bandung (Javier Maverick Tristan), Panggung Wandu (Mahatma Putra), Jalan Pulih (Wahyu Utami), A Tale of Stolen River (Mahatma Putra).7 Seluruh film ini mengangkat isu mulai dari pekerja lanjut usia, perubahan tata ruang kota, kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, pembangunan yang destruktif, hingga kekerasan negara. Dari segi news value, secara gamblang tampak betul seluruh film memiliki urgensi yang tinggi. Sulit dipungkiri bahwa film-film bisa menjadi contoh bagaimana dokumenter bertopang pada kerja riset yang serius, kedekatan dengan masyarakat terdampak, dan keberpihakan yang nyata. Menonton keenam film-film ini membuat penonton menyadari berbagai lapisan problem struktural di sekitar kita.
Ini menjadi keistimewaan lain. Di tengah tsunami informasi via sosial media hari ini, problem-problem yang disajikan di film-film ini mungkin bukan hal baru. Setidaknya barangkali pernah terlintas di linimasa dunia maya kita. Secara tidak langsung, ini menunjukkan bagaimana menyempitnya ruang demokrasi selain disebabkan pembatasan informasi, tetapi juga oleh deraian kabar menderu berebut atensi. Modus demikian barangkali tidak sepenuhnya organik, bisa saja melalui proses orkestrasi agar publik gagal melihat lebih bernas lapisan problem struktural dan urusan publik yang lebih krusial.
Sayangnya, saya juga harus mengatakan bahwa sebagian besar film di Djourno Fest masih memperlihatkan kecenderungan bentuk yang relatif serupa. Wawancara menjadi tulang punggung narasi film. Diperkuat lagi dengan voice-over untuk menjelaskan konteks. Data, kronologi, informasi, dan penjelasan verbal menjadi penggerak utama cerita. Gambar bekerja terutama untuk memperkuat informasi yang telah lebih dahulu dibangun melalui narasi.
Dari enam film, Jalan Pulih dan A Tale of Stolen River menjadi dua yang saya rasa paling memiliki rasa berbeda. Jalan Pulih menunjukkan kedekatan yang intim dengan subjek. Berhasil secara seimbang menyelaraskan porsi-porsi wawancara dengan metode observasionalnya. Problem kesehatan mental dan disabilitas tidak ditempatkan sebagai objek eksotis, tapi dengan bijak menghadirkan lapisan masalah strukturalnya. Sedangkan A Tale of Stolen River memotret pembangunan yang merenggut ruang hidup masyarakat lokal atas nama proyek strategis nasional pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Metode observasionalnya dengan cermat mengkomposisikan image sebagai sebuah statement politis ketika menggambarkan warga yang berjalan di tengah tembok-tembok beton tinggi IKN.
Selain kedua film tersebut, menurut saya, image masih ditempatkan sebagai ilustrasi fakta ketika dokumenter memasuki wilayah jurnalistik. Padahal sebagaimana yang nukilan berbagai statement pada awal tulisan, salah satu kekuatan terbesar dokumenter justru terletak pada kemampuannya membiarkan image bekerja secara otonom. Sebuah lanskap yang sunyi, gestur tubuh, jeda percakapan, hingga durasi yang dibiarkan memanjang, sering kali justru mampu menghadirkan pengalaman yang tidak mungkin digantikan oleh penjelasan verbal dan informasi kilat konten sosial media. Poin ini bukan untuk mempertanyakan apakah dokumenter jurnalisme harus setia pada fakta. Jawabannya tentu saja harus. Persoalannya adalah apakah kesetiaan pada fakta harus selalu diwujudkan melalui dominasi penjelasan verbal? Bagi saya, belum tentu.
Ketika Berita Tidak Lagi Cukup
Justru ketika Djourno berupaya memperluas kemungkinan jurnalisme melalui sinema, sebagian besar film yang diputar masih bekerja dengan logika jurnalistik yang sangat dominan. Wawancara, voice-over, data, dan penjelasan verbal menjadi penggerak utama narasi, sementara image lebih sering hadir sebagai ilustrasi atas informasi yang telah lebih dahulu diketahui. Dalam kondisi demikian, sinema belum sepenuhnya dipercaya sebagai cara mengetahui dunia, tetapi masih diperlakukan sebagai medium penyampai pengetahuan.
Padahal, jika documentary journalism ingin benar-benar menawarkan sesuatu yang berbeda dari laporan investigasi berdurasi panjang, tantangannya bukan hanya menjaga disiplin verifikasi, tetapi juga mengembangkan kemungkinan-kemungkinan sinematik yang mampu menghasilkan bentuk pengetahuan yang tidak dapat dicapai oleh bahasa jurnalistik semata.
Jika fakta telah diverifikasi melalui disiplin kerja jurnalistik, bukankah sinema justru memiliki kesempatan untuk mengembangkan cara lain dalam merepresentasikan fakta tersebut? Bukan sekadar menghadirkan dan menjelaskan, apalagi untuk membengkokkan fakta, tetapi memungkinkan penonton mengalami, merasakan, bahkan berdiam bersama kenyataan yang sedang dibicarakan. Barangkali inilah tantangan terbesar dokumenter jurnalisme ke depan. Dokumenter yang sekaligus laporan investigasi senantiasa penting sebagai bagian dari menjaga demokrasi dan mengontrol kekuasaan. Untuk membuat niat mulia ini bernafas panjang, kemampuan bahasa sinema menjadi penting agar value dari dokumenter jurnalisme turut menjadi pengalaman dan membuka berbagai kemungkinan.

Djourno Festival, sebagai sebuah festival film dokumenter jurnalisme adalah sebuah medan negosiasi yang masih terus berlangsung. Memang keduanya tidak perlu dipertentangkan, antara fakta dan pengalaman, antara verifikasi dan afeksi, antara informasi dan image bisa menjadi kesatuan yang koheren tanpa saling meniadakan.
Jadi kapan kita membutuhkan dokumenter jurnalisme? Mungkin ketika berita tidak lagi cukup.
Djourno Festival rasanya tidak lagi sekadar membayangkan masa depan jurnalisme, tapi mulai merancang apa yang ingin diwujudkan di tengah kecenderungan otoritarianisme dan menyempitnya ruang kritik.
- Dengan mengutip langsung dari Bill Nichols, “The Voice of Documentary,” Film Quarterly Vol 36, No. 3 (Spring 1983): 17-30. 18, saya pernah menulis poin serupa pada tautan https://sudutkantin.com/film-roots-walter-spies-akar-yang-menumbuhkan-tatapan/#df61e625-ea14-4f24-8afe-ae338669dfb8 ↩︎
- Stephanie Craft, “Documentary Journalism,” dalam Journalism, ed. Tim P. Vos (Berlin/Boston: De Gruyter Mouton, 2018), 416. ↩︎
- Perbincangan ketiganya tentang garis batas yang kabur antara pembuatan film dokumenter dan jurnalisme menjadi topik hangat di Festival Film Sundance 2015. Selengkapnya bisa disimak melalui https://cmsimpact.org/event-news/sundance-2015-documentary-or-journalism/ ↩︎
- Thomas A. Mascaro, “The Blood of Others: Television Documentary Journalism as Literary Engagement,” American Journalism 35, no. 2 (2018): 176. ↩︎
- Secara lebih spesifik, Mascaro membahas soal dokumenter jurnalisme di televisi dan bagaimana posisi etik antara jurnalis dan subjek yang diceritakan. Thomas A. Mascaro, “The Blood of Others: Television Documentary Journalism as Literary Engagement,” American Journalism 35, no. 2 (2018): 173 ↩︎
- Secara lebih spesifik Steyerl memaparkan genealogi Poor Image yang membentuk jaringan global, hierarki gambar, dan restrukturisasi neoliberal dalam industri media. Ia tidak lagi bergantung pada keaslian atau kualitas visual, tetapi pada sirkulasi, mobilitas, dan keterhubungannya dalam jaringan digital. Steyerl, Hito. 2012. “In Defense of the Poor Image” dalam The Wretched of the Screen. (Editor). Berlin: Sternberg Press. ↩︎
- Selengkapnya mengenai sinopsis dan informasi lebih lanjut setiap film bisa disimak melalui laman instagram Djourno Festival @djourno_fest https://www.instagram.com/djourno_fest/ ↩︎



